RSS

“Dulu BLT..sebentar lagi BLSM? Apa Bedanya?”

17 Jun

Sebentar lagi pemerintah akan meluncurkan program Bantuan Lansung Sementara Masyarakat (BLSM) dalam mengatasi dampak kenaikan harga BBM. Sebelumnya Komisi di DPR mengajukan pengajuan draf awal RAPBNP 2013 sebesar Rp. 11, 6 miliar terbagi ke dalam penerima BLSM sejumlah 15,5 juta warga miskin yang akan diberikan selama 5 (lima ) bulan, tetapi Badan Anggaran DPR hanya menyetujui diberikan selama 4 (empat) bulan sehingga yang disetujui sebesar Rp. 9,3 triliun. Adanya selisih senilai Rp2,31 triliun akan dimanfaatkan untuk biaya penyaluran dan pengamanan BLSM Rp360 miliar, infrastruktur modal Rp500 miliar, tambahan kebutuhan mendesak Rp196,4 miliar dan infrastruktur dasar Rp1,25 triliun.

Jika kita lihat perincian dana yang diajukan tersebut, sisa dana  yang digunakan untuk penyaluran BLSM sangat besar untuk hal-hal operasional mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita untuk apa? Sudah efektif dan efisien kah dana yang begitu besar disalurkan dalam bentuk BLSM? Jika memang masyarakat kita yang terkena dampak kenaikan harga BBM membutuhkan bantuan, tapi apakah harus dengan pemerintah memberikan bantuan secara tunai. Kita tentunya masih ingat dengan program serupa yang dikucurkan oleh pemerintah yaitu Bantuan Langsung Tunai (BLT), apakah dengan kompensasi dana tunai yang diberikan oleh pemerintah sudah cukup memberikan manfaat yang begitu besar atau kah kondisi masyarakat juga tetap saja dalam kondisi miskin tidak ada perubahan. Baik BLT maupun BLSM semuanya adalah suatu model kebijakan yang tidak mendidik, hanya mendidik masyarakat untuk menjadi peminta bukannya dididik untuk bisa diperdayakan sehingga dapat memperbaiki taraf hidup mereka sebagai warga miskin. Dana yang diberikan oleh pemerintah  dalam bentuk BLSM hanya diberikan selama 4(empat) bulan, lantas beberapa bulan setelah itu bagaimana nasib warga miskin dalam menghadapi dampak kenaikan harga BBM terhadap kenaikan harga barang kebutuhan rumah tangga. BLSM bisa menyebabkan sifat konsumtif daripada produktif karena dana yang didapatkan hanya sekejab mata hilang dan setelah masa pemberian kompensasi itu habis mereka akan kebingungan untuk mencari uang mencukupi kebutuhan hidup mereka.

Sungguh sangat disayangkan kenapa pemerintah tidak bisa belajar dari pengalaman masa lalu yang tidak menunjukkan hasil maksimal, seharusnya pemerintah dapat menciptakan suatu kebijakan baru dalam upaya pemberdayaan masyarakat melalui pendirian UKM, penciptaan lapangan kerja.  Pemerintah seharusnya bisa jeli melihat potensi kemiskinan yang melanda Indonesia. Sebenarnya apa penyebab warga Indonesia miskin tentunya karena latar belakang pendidikan mereka rendah ataupun memang tidak adanya lapangan pekerjaan. Kenapa pemerintah tidak berpikir bagaimana meningkatkan infrastruktur pendidikan sehingga manusia Indonesia bisa menjadi pintar, jika mereka pintar tentu mereka bisa membawa kesejahteraan dalam hidup mereka. Selain itu juga, yang paling penting adalah pemberdayaan pemerintah terhadap warga Indonesia yang tercatat sekian juta jiwa termasuk dalam kategori pengangguran bisa mendapatkan lapangan pekerjaan, minimal pemerintah bisa membangun UKM. Mendirikan suatu usaha bukan membuat usaha yang besar, namun semua bisa berawal dari pedagang kecil atau pedagang kaki lima. Banyak sekali yang bisa ditawarkan jika pemerintah jeli melihat sikon yang ada. Jika pemerintah hanya memberikan uang secara tunai, itu tidak akan mengubah 2 (dua) permasalahan yang melatarbelakangi muculnya kemiskinan. Pemerintah bisa kita sebut “hanya memberi ikan untuk makan, bukannya memberi kail untuk membantu mencari bagaimana mendapatkan ikan untuk bisa makan”.Dana BLSM bisa dialokasikan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat di sektor lain.

Menurut saya, pemerintah seharusnya lebih bijak mencermati permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam masyarakat dalam menyikapi dampak kenaikan harga BBM. Saya pribadi kurang setuju dengan kenaikan harga BBM karena BBM merupakan sumber daya yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak seharusnya pemerintah bisa melindungi warganya dalam mendapatkan fasilitas tersebut. Kenapa pemerintah tidak menaikkan misalnya pajak kendaraan bermotor nya sehingga rakyat akan berpikir lagi untuk membeli mobil atau motor baru, Pemerintah seharusnya bisa menaikkan pajak retribusi kendaraan, atau biaya parkir yang tinggi, dan masih banyak lagi sektor-sektor lain yang dikembangkan pendapatannya daripada hanya mengusik permasalahan BBM. Kenaikan BBM sangat berdampak pada terjadinya inflasi yang tinggi dan kenaikan harga, sehingga dampaknya sangat dirasakan masyakarakat kecil. Menurut saya masih banyak pos-pos dalam bidang pemerintahan yang tidak sesuai dengan anggaran yang sesuai, sehingga anggaran yang dikeluarkan bisa membengkak dan tidak pro rakyat. Bisa lihat beberapa contoh dari lingkup DPR sendiri, dana banyak yang dihamburkan hanya untuk memenuhi kebutuhan fasilitas mewah para anggota DPR dan masih banyak lagi contoh di pemerintah yang menunjukkan manajemen pemerintah terkesan boros dan tidak terkendali anggarannya padahal semua itu adalah uang rakyat. Kenaikan harga BBM tentu akan berdampak yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat dan semua itu perlu dipikirkan baik-baik oleh pemimpin negeri ini.

Iklan
 
21 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 17, 2013 in Ekonomi

 

21 responses to ““Dulu BLT..sebentar lagi BLSM? Apa Bedanya?”

  1. Iwan Yuliyanto

    Juni 17, 2013 at 9:07 am

    BLT dan BLSM memang sama saja.
    Belajar dari pengalaman pemberian BLT di masa lalu, sebagian besar warga miskin menggunakan dana BLT untuk konsumsi selama beberapa hari saja.

    Saya juga gak setuju dengan kenaikan BBM, dampak kenaikannya akan berdimensi luas, bertahan lama bertahun-tahun. Sedangkan BLSM hanya diberi Rp 150 ribu/bulan selama 3-4 bulan. Dalam 1 bulan mendapat Rp 150 ribu, untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok, itupun akan habis beberapa hari saja, karena harga-harga sudah pada naik. Lantas siapa yang menjamin stabilitas kebutuhan pokok rakyat pada bulan ke-4 dan seterusnya?

    Sasaran penerima BLSM ini sangat sedikit dan tidak menjangkau seluruh rakyat yg terkena dampak kenaikan harga BBM.
    BLSM bukan menekan angka kemiskinan. BLSM tidak membuat rakyat produktif & mandiri.
    Pemerintah menipu rakyat Indonesia dalam iklan-iklan sosialisasi kenaikan BBM.

    Saya setuju dengan paragraf terakhir jurnal ini, seharusnya pemerintah tidak menaikkan BBM.
    Soal alasannya subsidi yang salah sasaran itu sebenarnya ngibul atas ketidak-mampuannya melawan mafia BBM di negeri ini.

     
  2. Iwan Yuliyanto

    Juni 17, 2013 at 9:29 am

    Contoh beberapa anggaran yang tidak pro rakyat menurut Laporan FITRA, seharusnya pos-pos ini di-efisiensi-kan.
    Anggaran Rumah Tangga Presiden sampai Rp 204 M

     
  3. kaligrafinusantaraonline

    Juni 17, 2013 at 11:14 am

    Harusnya BLSMMP ( Bantuan Langsung Sementara Menjelang Pemilu ) Lumayan buat nambah suara.

    ” Beginikan cara pemerintah mengolah kekayaan alam indonesia yang sangat kaya untuk kesajahteraan rakyat ?” mengambil uang dari rakyat di berikan lagi ke rakyat dan sisanya kemana ?
    Bolehlah menaikan BBM Kalau pemerintah mau mendirikan usaha khusus untuk mempekerjakan orang-orang miskin, tapi kalau untuk dibelikan beras yang warnanya sudah kuning dan jamuran mana mungkin orang miskin bebas dari kemiskinan. malahan yang ada semakin banyak yang tambah miskin, lhoo kok bisa…,ya iya…orang yang hidupnya pas-pasan jadi ikut kebawah karena semua harga barang ikut naik, sementara gaji buruh tetap apalagi pekerja bangunan seperti saya.

    Kalau begini caranya seakan-akan sumber daya alam indonesia ini seperti sudah habis, juga sumber daya manusianya tidak dimanfaatkan, laut yang luas penuh harta karun disia-siakan begitu saja, tanah-tanah pertiwi yang subur juga dibiarkan di tumbuhi ilalang karena pemasangan patok yang bertuliskan ” TANAH INI MILIK PEMERINTAH ” ya sudah kalau begitu.apa boleh buat

    itu kan tulisan yang salah, yang seharusnya adalah ” TANAH INI MILIK RAKYAT ATAS NAMA PEMRINTAH, SILAHKAN DI TANAMI TANAMAN YANG BERMANFAAT SELAMA PEMERINTAH BELUM MAU MENGGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN RAKYAT” nah ini baru membantu orang miskin…

     
    • martinafiaub

      Juni 18, 2013 at 2:24 am

      Kebijakan pemerintah memang terkesan kebijakan tambal sulam bukannya membuat suatu kebijakan bagaimana menata negara ini agar masyarkatnya pun bisa hidup layak. Dampak kenaikan harga BBM sangat meluas,bagi orang-orang kaya tidak mempunyai masalah tapi bagi kalangan menengah kebawah sangat terasa sekali dampaknya. Saya sangat setuju dengan mas hidayat,sumber daya alam kita sangat melimpah ruah tapi kenapa itu tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah justru menjadi milik perusahaan asing. Kita bisa mengambil contoh satu saja, pengelolaan di freeport, negara Indonesia mendapatkan hasil berapa persen? Kita adalah pemilik sumber daya tersebut seharusnya kita makmur, tapi sejatinya rakyat Papua belum sejahtera dan sampai sekarang masih terjerumus dalam keterpurukan dan ketertinggalannya dari daerah lain. Sungguh sangat ironis jika kita memikirkan negara kita. Kapan negara kita ini bisa berubaha? Kapan negara kita dipimpin oleh seorang pemimin yang berintegritas dan bermoral tinggi yang mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia?

       
  4. I.S. Siregar

    Juni 17, 2013 at 6:28 pm

    saya setuju dan juga tidak setuju dengan kenaikan BBM. saya setuju BBM dinaikkan jika pemerintah bertindak dengan tegas, tidak ragu2, apalagi sampai ad partai koalisi yg bangkang. Subsidi yg diberikan selama ini dinikmati oleh orang2 kaya juga, eksportir dkk, jd sekalian saja naik biar orang2 kaya tidak bisa menikmati subsidi.
    sya tidak setuju dengan kenaikan BBM jika pemerintah tidak mengiringinya dengan memperluas lapangan pekerjaan, BLSM tidak cukup, yg sekarang di butuhkan adalah peningkatan usaha2 mikro, karena terbukti membantu menghambat laju inflasi.
    ada sedikit ide dari saya, bagaimana kalau produsen2 kendaraan membuat spesifikasi tentang bahan bakar kendaraan tersebut, contoh mobil Range Roover hanya bisa digunakan jika menggunakan Pertamax, sehingga jelas arahnya yg kaya beli BBM yg sedikit mahal, yg miskin beli yg murah.

     
    • martinafiaub

      Juni 18, 2013 at 2:16 am

      Memang subsidi yang diberikan sekarang ini dinikmati oleh orang kaya juga tetapi imbasnya tetep mengarah ke rakyat miskin. Jika BBM itu dinaikkan dengan harga berapun orang kaya pasti mampu, akan tetapi jika dinaikkan serupiah untuk masyarakat menengah ke bawah akan berdampak lebih besar. Sekarang ini motor bukanlah hal yang susah untuk di dapat, hampir rata-rata setiap rumah tangga mempunyai motor untuk mobilitas. Untuk mendapatkan motor pun juga tidak sulit hanya DP berapa ratus ribu, motor bisa dbawa pulang. Jika da rumah tangga yang tidak mempunyai motor, tetapi dia menjadi abang becak, skarang ini pun sudah banyak becak memakai mesin. Bagi rumah tangga yang kelas bawah yang tidak mempunyai kendaraan, mereka akan mendapatkan imbas dengan kenaikan harga BBM pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Mereka yang ada di bawah justru akan masuk kedalam jurang kemiskinan yang semakin lama membuat mereka semakin terpuruk. Jika ini terjadi berlarut-larut akan semakin meningkatkan angka kemiskinan di negara kita.

       
      • I.S. Siregar

        Juni 19, 2013 at 5:25 am

        nah, oleh karena itu perkembangan usaha2 mikro harus dikembang lbh gencar lg, karena sasarannya adalah rakyat mnengah ke bawah, dan itu bisa membantu menyelamtkan mereka dari keterpurukan.
        saya batu tahu, setelah mengamati hitung2annya pak Kwik Kian Gie, ternyata masalah subsidi itu bohong belaka, tak ad yg namanya subsidi. yang dikhawatirkan sekarang adalah masalah liberalisasi minyak yg tadinya dimiliki BUMN Pertamina, sya takut dengan naiknya harga utk meyamakn degn harga minak dunia turut pula mengundang perusahaan2 asing masuk k Indonesia. dan nyatanya itu sudah terjadi, Chevron dan Petrocina mulai menggerogoti minyak2 kita, sya khawatir Pertamina akan jatuh.

         
      • martinafiaub

        Juni 19, 2013 at 7:55 am

        Saya juga sudah membaca perhitungannya pak Kwik tentang BBM, kenapa ketika harga minyak dunia naik maka pemerintah selalu disibukkan dengan menaikkan BBM. Jika harga minyak dunia naik, tentu akan ada kelebihan penjualan dari produksi minyak mentah yang kita miliki. Kita memiliki sumber daya yang banyak yang tentunya tidak perlu kita membayarnya sendiri, masa kita pnya lahan minyak sendiri tapi koq malah terkena imbas dengan harga minyak dunia. lantas pertanyaannya? kemana uang yang didapat pemerintah atas kenaikan harga minyak mentah? siapa yang menikmatinya?

         
  5. I.S. Siregar

    Juni 19, 2013 at 2:00 pm

    iya bu Martina… sya ini mahasiswa yg sedang belajar, wajar saja kalau sya menggebu2, heheh.
    Ibu dosen ya? tulisan2 nya bermutu sekali. mungkin kita bisa sharing2 berbagi ide, sya sebagai mahasiswa, ibu sebagai dosen. 🙂

     
    • martinafiaub

      Juni 20, 2013 at 1:06 am

      Pekerjaannya belajar bareng mahasiswa. Ya mas siregar, semoga nanti kita bisa saling berbagi ide n pemikiran karena mahasiswa sekarang sangat kreatif. Kuliah ambil jurusan pa? n semester berapa?

       
      • I.S. Siregar

        Juni 21, 2013 at 9:27 am

        iya bu Martina, sya kuliah d fak ekonomi jurusan akuntansi, skrang smeseter 4 di Univ Islam Indonesia.
        ya,,, yg kreatif banyak, yg ga kreatif sama sekali juga banyak bu, heheh.
        Ibu sendiri ngajar d mna dan ngajar apa??

         
      • martinafiaub

        Juni 28, 2013 at 2:22 am

        tetap semangat berkarya mas siregar jadilah mahasiswa yang kreatif. Nanti kpn2 kl maen ke Kediri bisa mampir di UB Kampus IV Kota Kediri. Saya di FIA jur Adm Publik..

         
      • I.S. Siregar

        Juni 29, 2013 at 3:08 am

        OK bu Martina. 🙂

         
    • martinafiaub

      Juni 20, 2013 at 1:06 am

      Pekerjaannya belajar bareng mahasiswa. Ya mas siregar, semoga nanti kita bisa saling berbagi ide n pemikiran karena mahasiswa sekarang sangat kreatif. Kuliah ambil jurusan pa? n semester berapa?

       
  6. Ina

    Juli 7, 2013 at 1:01 pm

    klo saya masih cenderung pro kasih kailnya aja, jangan ikannya.
    eh, saya baru ngeh ternyata BLSM nggak setiap bulan yah? cuman bbrp bulan doank? artinya sekedar buat ngeredam gejolak massa aja yah…

     
    • martinafiaub

      Juli 9, 2013 at 2:06 am

      iya mbak Ina saya sangat setuju sekali..

       
  7. potretbikers

    Juli 7, 2013 at 2:11 pm

    Ikut menyimak saja…. 😀

     
  8. sarip2hamid

    Juli 16, 2013 at 6:01 am

    yah… itumah karena kurang kerjaan aja pemerintah 😦 makanya buat program yang mengada ada. #ngomong apa coba ?
    yg jelas sudah apatis sama politik dan demokrasi di Indonesia. *tambah ngaco kan saya ???

     
    • martinafiaub

      Agustus 16, 2013 at 3:07 am

      semoga bangsa kita bisa belajar menjadi bangsa yang lebih baik lagi ke depannya..

       
      • sarip2hamid

        Agustus 20, 2013 at 5:55 am

        Amien, semoga org2 yg berkuasa pada insyaf yah 🙂

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: