RSS

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015?

13 Jun

Dua tahun kedepan Indonesia akan menghadapi era tantangan baru dalam ASEAN Economic Community. Implementasi ASEAN Economic Community yang direncanakan dilaksanakan pada tahun 2020 diajukan menjadi tahun 2015. Dengan diberlakunya ASEAN Economic Community yang disepakati bersama oleh semua negara di wilayah Asia Tenggara maka secara otomatis liberalisasi akan terjadi hampir di semua sektor. Ketika ASEAN Economic Community berlaku pada akhir 2015 nanti  pasar  Indonesia akan membuka diri. Pasar Indonesia akan sangat menarik bagi negara tetangga dan kita hanya akan menjadi penonton bila kita tidak mempersiapkan diri dari sekarang.

Konsep utama dari ASEAN Economic Community adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling menguntungkan. Kehadiran ASEAN Economic Community bisa membantu ketidakberdayaan negara-negara ASEAN dalam persaingan global ekonomi dunia yaitu dengan membentuk pasar tunggal yang berbasis di kawasan Asia Tenggara. Liberalisasi di bidang jasa yang menyangkut sumber daya manusia mungkin akan tampak terlihat jelas karena menyangkut tentang penempatan tenaga terampil dan tenaga tidak terampil dalam mendukung perekonomian negara. Namun, yang paling banyak berpengaruh dan sangat ditekan dalam ASEAN Economic Community adalah tenaga kerja terampil.

Secara prinsip ada dua terminologi perpindahan tenaga terampil yaitu prinsip Movement of Natural Persons (MNP) dan fasililtated entry. Pada prinsip pertama, tenaga kerja terampil melakukan mobilitas dalam kurun waktu tertentu baik sebagai individu yang mempekerjakan dirinya sendiri maupun sebagai pekerja dari perusahaan multinasional. Oleh karena itu yang termasuk dalam MNP adalah pengunjung bisnis, investor dan pedagang yang melakukan transaksi bisnis dan investasi, pindahan tenaga kerja pada perusahaan multinasional serta kalangan profesional seperti dokter, perawat, pengacara, akuntan, insinyur teknik dan tenaga profesional di bidang teknologi informasi. Prinsip yang kedua adalah mobilitas yang terkendali jadi bukan berarti bahwa mobilitas itu secara totally free.

Ada 12 sektor jasa yang telah disepakati oleh negara ASEAN diantaranya : (1)bisnis, (2)komunikasi, (3)teknik konstruksi dan teknik terkait, (4)pendidikan, (5)distribusi, (6)lingkungan hidup, (7)keuangan, (8)jasa yang terkait dengan kesehatan dan sosial, (9) pariwisata dan perjalanan wisata, (10) rekreasi, olahraga, dan kebudayaan, (11)angkutan, dan (12)sektor jasa lainnya. Perpindahan tenaga kerja terampil secara bebas bukan berarti dapat dilakukan secara totally free akan tetapi melalui Mutual Recognition Arrangement (MRA). Dengan mekanisme MRA, negara tujuan mengakui kualifikasi profesional tenaga terampil dari negara asal atau negara pengirim. Itu berarti negara asal memiliki otoritas untuk memberikan sertifikat yang menjelaskan tentang kompetensi tenaga terampil yang akan dikirim. Meski tidak langsung memberikan jaminan akses pasar tapi tentunya MRA merupakan langkah awal dalam upaya mempromosikan tenaga terampil tersebut.

Kompetisi yang dihadapi Indonesia kedepan akan jauh lebih besar dalam menghadapi era ASEAN Economic Community. Ada beberapa tantangan diantarnya: pertama, mengaitkan mobilitas tenaga kerja terampil dan tidak terampil. Indonesia memang merupakan salah satu pengeksor tenaga kerja terbesar ke luar negeri, akan tetapi semua justru kebanyakan berasal dari tenaga kerja tidak terampil. Namun, dalam konteks ASEAN Economic Community ini belum mengarah pada penempatan tenaga kerja tidak terampil tetapi lebih memfokuskan pada tenaga terampil sehingga akan menunjang kerjasama antar bangsa. Kedua, isu inflow dan outflow tenaga terampil di Indonesia. Isu inflow tidak signifikan karena Indonesia masih didominasi sektor pertanian dan perdagangan. Isu outflow juga tidak terlalu penting karena sedikitnya jumlah tenaga profesional dan kurangnya penguasaan bahasa Inggris. Fokus permasalahan tenaga kerja di Indonesia lebih banyak kepada penanganan kasus buruh daripada peningkatan daya saing tenaga terampil.Ketiga, menyikapi regulasi domestik negara-negara ASEAN sehingga membutuhkan koordinasi yang lebih lanjut karena semua terkait dengan politik negara tujuan. Keempat, kualitas tenaga terampil di Indonesia. Menurut Laporan Bank Dunia, terjadi kesenjangan besar dalam kualitas tenaga terampil di Indonesia. Disebutkan kesenjangan terbesar adalah penggunaan bahasa Inggris (44%), penggunaan komputer (36%), ketrampilan perilaku (30%), ketrampilan berpikir kritis (33%) dan ketrampilan dasar (30%). Hal yang lebih mengenaskan lagi adalah ketimpangan jumlah pekerja di Indonesia dimana hanya 7% saja yang mengenyam pendidikan tinggi.

Jika hanya bergelut di permasalahan tantangan yang dihadapi Indonesia, tentu ada peluang yang bisa kita tangkap dalam pelaksanaan ASEAN Economic Community diantaranya Indonesia akan dipacu lebih kompetitif dalam mencetak tenaga terampilnya, Indonesia dapat membuat kerjasama dalam bidang pendidikan dengan negara maju di ASEAN seperti Singapura dalam rangka memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik pelajar, mahasiswa dan juga pengajar dapat diintensifkan, pemerintah dapat menetapkan prosentase tertentu dari tenaga kerja asing yang ditempatkan di Indonesia sebanding dengan tenaga kerja terampil dari dalam negeri, tujuannya agar tenaga terampil kita mampu bersaing dengan tenaga dari luar negeri. Kita harus optimis bahwa Indonesia juga tidak akan kalah dengan negara tetangga se-Asia Tenggara karena kesepakatan sudah disepakati oleh semua pihak.

Referensi : Kompas

Iklan
 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2013 in Ekonomi

 

Tag: ,

10 responses to “Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015?

  1. abi_gilang

    Juni 13, 2013 at 9:50 am

    Postingan yang sangat berkaitan dengan akang pribadi, saat ini akang bekerja sebagai tenaga medis di bidang laboratorium di salah satu rumah sakit swasta di jakarta. Akang mengakui bahwa menghadapi AEC cukup megkhawatirkan terutama karena kemampuan yang kurang dalam penguasaan bahasa inggris seperti yang disebutkan di atas. Apalagi denger2 bidang layanan kesehatan adalah salah satu bidang dari 5 bidang yang akan pertama kali terimbas AEC 2015. Terima kasih postingannya Mba Martina.

     
    • martinafiaub

      Juni 14, 2013 at 2:55 am

      Memang kita tidak bisa menghindar dari kesepakatan bersama tsb, mau tidak mau kita harus bergerak dan mempersiapkan terutama SDM Indonesia karena nti pasti bersaing dengan SDM dari luar. Pemerintah memang harus benar-benar memperhatikan SDM kita dan sebelum memasuki era AEC bisa dipersiapkan para SDM kita agar bisa bersaing. Mungkin bukan hanya akang yang menghadapi masalah ini, masih banyak lagi yang mempunyai masalah penguasaan bahasa Inggris temasuk saya, saya juga masih perlu banyak belajar mengenai bahasa Inggris. Tapi kita tidak boleh menyerah menghadapi AEC, kita pasti bisa menjadi pemenang di negeri sendiri

       
  2. Rocky Winata

    Juni 13, 2013 at 10:22 am

    Kunjungan perdana mbak 🙂 terus berkarya, semangat dalam memberi pembelajaran bagi masyarakat.

     
    • martinafiaub

      Juni 14, 2013 at 2:56 am

      Terima kasih mas rocky.. semoga bisa saling sharing informasi..

       
  3. I.S. Siregar

    Juni 13, 2013 at 6:22 pm

    menurut saya kalua secara persentase wajar Indonesia tidak imbang, masalahnya jumlah Indonesia ada banyak.
    saya agak sedikit kurang setuju dengan gerakan pasar bebas yang mau dilakukan pemerintah, mungkin tujuannya ialah mempersempit kesenjangan anatar si miskin dan kaya, atau justru bisa sebaliknya, malah memperluas kesenjangan itu.
    saya harap pemimpin kita kedepan bisa lebih memperhatikan hal ini, kita tidak ingin ada lagi perusahaan Indonesia berangsur dimiliki oleh ekspaktriat, sudah cukup dengan Freeport, Indosat, dkk.

     
    • martinafiaub

      Juni 14, 2013 at 4:21 am

      Memang kl dilihat dari kapasitas Indonesia untuk bertarung dalam era AEC masih terkesan masih banyak yang harus dipersiapkan. Terlebih lagi masalah tenaga kerja Indonesia masih perlu banyak yang harus disiapkan. Menurut saya apakah AEC dinilai debagai peluang atau tantangan? semua tergantung bagaimana setiap negara dan juga kita sebagai SDM nya dalam menyikapinya. Bagaimana mengatasi kesenjangan yang terjadi nantinya tergantung bagaimana pemimpin kita bergerak demi kepentingan rakyat bukan kepentingan individu atau kelompok. Tetapi bagaimanapun juga kita tinggal di kawasan yang Asia Tenggara dan jika kita tidak ikut ke dalam AEC kita juga akan lebih jauh tertinggal dari negara lain terutama ASEAN. Kalau dilihat dari konsep AEC sangat bagus dalam rangka mengembangkan pasar ASEAN agar menjadi lebih punya taring di kanca global. Tentu semua itu akan berimbas pada negara kita untuk menjadi semakin lebih maju

       
  4. Iwan Yuliyanto

    Juni 14, 2013 at 4:33 am

    Bila kualitas tenaga kerja Indonesia tidak segera disiapkan sejak awal, maka diperkirakan Indonesia akan kesulitan menghadapi tantangan AEC tahun 2015 nanti.
    Saat ini saja Peringkat daya saing Indonesia (melalui Global Growth Competitiveness Index) menempati urutan 50 dari 144 negara di dunia. Peringkat itu jauh di bawah negara ASEAN lainnya spt Singapura yg menduduki peringkat 2, Malaysia 25, Brunei 28, dan Thailand 38.
    Ini PR besar yg harus diselesaikan dalam 1 tahun ke depan.

     
    • Iwan Yuliyanto

      Juni 14, 2013 at 7:42 am

      Tadi mau komentar panjang, gak jadi… krn buru-buru mau Jum’atan 🙂

      Saya setuju dg semangat optimisme yg disampaikan mbak Martina dlm jurnal ini. Karena memang ini adalah kebijakan bersama yg sudah disepakati oleh semua pemimpin negara Asean.
      Memang (awalnya) akan terlihat mereka yg kalah bersaing akan tersingkir. Namun, kalo tidak dipacu dg tingginya persaingan spt ini, bagaimana Indonesia bisa maju. Ini positifnya. Semua sektor akan dipacu bangkit, terutama agroindustri dan agrobisnis.

      Hal yg patut menjadi perhatian adalah begitu banyak anak bangsa kita yg pintar dan jenius yg bekerja di luar negeri, sebagai peneliti & inovator, namun karya patennya didedikasikan untuk perusahaan asing yg menaunginya itu. Bayangkan ketika perusahaan asing itu kemudian mengembangkan sayapnya di Indonesia. Beberapa teman saya ada yg diposisi spt itu, shg ia dlm perusahaannya diperlakukan spt expatriat, dg gaji dollar tentunya, padahal ia bekerja di rumahnya sendiri tapi berbendera asing.
      Saya pernah membahas detail permasalahan ini di blog soal Paten Internasional.

      Wah, saya jadi tergelitik untuk menulis bagaimana meningkatkan daya saing Indonesia, terutama di sisi pembangunan SDM-nya. Beberapa kali sudah saya singgung dlm pelatihan yg saya sampaikan.

       
      • I.S. Siregar

        Juni 14, 2013 at 4:22 pm

        kalu begitu kita harus siap-siap menyambut datangnya gelombang ekspatriat ke Indonesia. apa kita mampu mempersiapkan SDM yang demikian rupa dalam waktu yg sempit?
        Singapura menduduki posisi yang tinggi karena di sana hampir seluruhnya dikuasai oleh ekspatriat.

         
      • martinafiaub

        Juni 17, 2013 at 1:38 am

        Ya mas siregar kl kita mundur, kita pasti akan kalah bersaing dan Indonesia juga punya SDM yang banyak juga berkualitas pasti bisa maju. Tapi tergantung bagaimana nantinya pemerintah mampu memberdayakan SDM kita untuk mampu bergabung dalam AEC

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: