RSS

“Masih Ada Lagi Gak ya, Kementrian yang Terjerat Korupsi”

11 Jun

Baru-baru ini kita dikabarkan berita mengenai adanya indikasi kasus korupsi ditubuh Kemendikbud. Sungguh miris rasanya ketika mengetahui bahwa lembaga yang merupakan induk dari penyelenggaraan pendidikan di Indonesia tersebut bisa terjangkit kasus korupsi. Penemuan tersebut justru berawal dari temuan internal Irjen Kemenedikbud sendiri bukan melibatkan KPK secara langsung. Indikasi tersebut berupa adanya penyalahgunaan dana sekita Rp. 700 miliar, bayangkam jumlah uang yang begitu wooowww….!!!! buanyak banget jumlahnya bukan jumlah yang sedikit, begitu sangat fantastis sekali anggaran yang diselewengkan. Jika kita kembali melihat lebih jauh, sebenarnya Kemendikbud itu dibentuk dengan tujuan apa? tentunya menaungi penyelenggaraan pendidikan baik di tingkat pusat maupun di daerah yang berpusat di ibu kota. Kemendikbud adalah satu-satunya Kementrian dan tidak ada lagi tandingannya bertujuan untuk ikut bertanggung jawab dalam upaya mencerdaskan bangsa terutama mendidik anak-anak Indonesia menjadi manusia yang pintar, cerdas, dan berakhlak mulia. Jika kita melihat kondisi yang ada di Kemendikbud seperti itu lantas apa yang bisa kita katakan? Kalau orang-orang yang ada di Kemendikbud saja tidak cerdas dalam mengelola anggaran sehingga justru mengakibatkan korupsi, terus mau dibawa kemana arah pendidikan Indonesia ke depan.

Pemerintah melalui Kemendikbud berusaha mengatur bagaimana pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan itu diselenggarakan dengan baik secara nasional. Melalui proses pendidikan, anak-anak Indonesia tidak hanya diajar tetapi juga dididik untuk menjadi manusia yang baik. Jika kita sedikit menengok ke belakang, tentu kita masih ingat skandal penyelewengan lain di tubuh kementrian yaitu Kementrian Agama dengan kasus pencetakan kitab suci Al Quran. Subhanallah…bahkan pengadaan Al Quran saja bisa di korupsi. Kita sungguh sangat menyayangkan, sebenarnya apa yang terjadi dengan watak orang-orang Indonesia ini yang mengaku beragama Islam tetapi tidak sepatutnya mereka yang mengatakan dirinya mengakui Al Quran sebagai kitab suci dan pegangan hidup mereka justru mereka berani-beraninya menyalahgunakan. Saya sampai heran, mana lagi lahan di pemerintahan yang tidak dirajai oleh korupsi. Sekarang ini korupsi sudah bertebaran dimana-mana  dan bahkan di tempat yang tidak terpuji dimana tidak seharusnya korupsi itu berada.

Jika kita melihat permasalahan tersebut, bagaimana orang-orang terpelajar yang ada di jajaran Kemendikbud dan Kemenag justru memberikan contoh yang tidak baik dan yang tidak sepatutnya dicontohkan kepada para generasi muda Indonesia. Anak-anak disekolahkan untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran, jika seperti itu apakah pemerintah sudah melakukan pengajaran dan pendidikan serta akhlak yang mulia? Tidak ada agama di dunia ini yang melegalkan korupsi. Jika melihat kondisi yang demikian, sebenarnya apakah yang salah dengan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia selama ini, sehingga pendidikan yang mereka dapat tidak dapat mengakar pada diri mereka sendiri justru malah menyelewengkan mereka ke jalan yang tidak benar?

Menurut saya Pemerintah hanya memberikan pengajaran saja? Jika contoh yang diberikan para generasi tua yang patut diteladani saja seperti itu, lantas bagaimana pembentukan kepribadian anak-anak didik kita yang semuanya adalah generasi muda. Generasi muda adalah tonggak kepemimpinan bangsa untuk masa depan. Jika memang pemerintah ingin membentuk karakter anak-anak Indonesia yang cerdas, tentu lembaga penyelenggara pendidikan dan pembentukan karakter bangsa berusaha mendidik dengan baik sehingga akan melahirkan otak yang cerdas. Jika penanaman modal pendidikan sudah dilakukan dengan baik tentu saja akan melahirkan watak yang cerdas pula. Jadi dapat kita simpulkan, kalau pengajaran dan pendidikan dilakukan dengan baik dan benar maka akan melahirkan manusia yang berotak cerdas dan berwatak cerdas pula. Jika semua manusia Indonesia berotak cerdas dan berwatak cerdas smua. Insya allah negara kita akan bebas dari jeratan korupsi…semoga Indonesia bisa menjadi lebih baik..aminn…

Iklan
 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 11, 2013 in Pendidikan

 

6 responses to ““Masih Ada Lagi Gak ya, Kementrian yang Terjerat Korupsi”

  1. Iwan Yuliyanto

    Juni 11, 2013 at 9:04 am

    Penegakan hukum di negeri kita masih setengah-setengah. Hukuman yang diberikan kepada para koruptor tidak membuat jera. Hitung-hitungan mereka (koruptor) sangat menguntungkan makanya berani berbuat meski kelak dipenjara, ini menarik juga untuk dianalisa, mbak Martina. Nanti saya juga coba buat analisanya.

    Begitu juga dengan sistem birokrasi, banyak celah untuk berbuat. Ingat prinsipnya bang Napi: Kejahatan itu ada karena ada Niat, Peluangan, dan Kesempatan.
    Kalo dicermati, para koruptor itu berbuat bukan karena tuntutan ekonomi, saya yakin mereka adalah orang yang berkecukupan, tapi karena jeratan sistem yang membuatnya bisa terjadi.

    Saya teringat dengan teman saya yang sebelumnya bekerja di salah satu kementerian di Jakarta, yang akhirnya harus memutuskan untuk resign karena tidak tahan dengan “aura panas” di lingkungannya tersebut. Godaannya sangat besar, karena peluang dan kesempatan terbuka lebar-lebar.

    Baru-baru ini, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan ada sekitar 1.800 rekening bernilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah milik PNS. Tentu sangat sulit menemukan logika untuk memahami bagaimana seorang PNS yg berpenghasilan maksimal Rp12 juta bisa memiliki simpanan di bank puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Ini faktanya.

    PR besar bagi pengelola negeri ini adalah bagaimana menutup rapat-rapat pintu-pintu peluang itu di semua birokrasi.

     
    • martinafiaub

      Juni 12, 2013 at 8:31 am

      saya sangat setuju pak Iwan kalau penegakan hukum di Indonesia memang masih setengah-setengah. Hal ini dikarenakan banyak sekali orang-orang dipemerintahan yang terlibat dari level bawah sampai atas, jika hukum terlalu kencang pastilah penjara itu penuh sekali. Negara kita tentunya bisa belajar dari negara Cina bagaimana pemerintah bisa mengendalikan kasus korupsi dengan memberikan hukuman yang sebanding dengan apa yang sudah dilakukan oleh koruptor.

      JIka dibandingkan dengan Indonesia sangatlah jauh berbeda. Para napi koruptor dapat melenggang dengan santainya di lapas. Seperti yang baru-baru ini ada sidak yang dilakukan wamenhum trnyt juga membuktikan bahwa para napi koruptor cuma pindah rumah saja di penjara, begitu byk fasilitas mewah di penjara. Saya juga heran pak Iwan kenapa para koruptor itu seakan-akan bangga sekali ya menjadi koruptor, tidak merasa malu, dan tidak pny rasa jera ketika dipenjara. Dan satu lagi yang saya amati adalah kurangnya sanksi sosial terhadap para koruptor dan juga keluarganya, sehingga para koruptor tidak jera dan tindakan koruptor banyak ditiru orang lain. JIka demikian, maka para koruptor akan berpikir lebih jauh untuk korupsi karena dia n keluarganya akan dikucilkan dari masyarakat..

       
  2. kaligrafinusantaraonline

    Juni 11, 2013 at 9:08 am

    Rasanya korupsi itu akan terus terjadi selama manusia tidak memahami tentang makna kematian serta tidak memahami makna yang tersirat dalam Al-Qur’an salah satunya adalah ” Dari mana hartamu dan kau gunakan untuk apa hartamu?”

    Sesungguhnya banyak dari meraka sudah tersesat, ” Memilih kesenangan dunia yang sesaat dari pada kehidupan akhirat yang kekal.”

     
    • martinafiaub

      Juni 12, 2013 at 8:35 am

      Korupsi memang akan terus menggerogoti semua aspek kehidupan bangsa.. Jika manusia Indonesia tidak cerdas bisa2 negara kita akan hancur.. Dari hal yang krusial sperti kitab suci Al Quran sampai bisa dikorupsi, lantas dimana hati nurani mereka yang seakan-akan buta akan kenikmatan duniawi yang justru itu tidak akan kekal

       
  3. Ika Oetomo

    Juni 12, 2013 at 9:20 pm

    Bener mbak, korupsi di Depag amat sangat memalukan. Kali orang yang tersangka korupsi emang harus dihukum gantung supaya jera

     
    • martinafiaub

      Juni 13, 2013 at 1:33 am

      memang bener mbak hukuman untuk para koruptor harus dibuat lebih memberatkan jangan kayak sekarang ini terlalu ringan hukumannya. Jadinya mereka bisa melenggang dengan santainya meskipun di penjara hidupnya koq tetap saja bisa mewah. Dengan kondisi seperti itu pasti banyak orang yang meniru karena korupsi saja hukumannya lebih ringan dari orang yang melakukan pidana pdhl dampak dari korupsi jauh lebih besar dan berdampak sistemik pada kehidupan negara

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: